Sabtu, November 29, 2008

RO Fanfic 09

Chapter 4: "Second Classes"

"Menyelesaikan tugasnya!?" kata Jade dengan nada meninggi. Jarred menatapnya dengan tatapan dingin. "Apakah ia harus mati demi menyelesaikan tugasnya!?" tanya Jade lagi. Jade merasa darahnya memanas dan amarahnya meningkat. "Jade," kata Cherlia sambil menarik lengan kiri Jade, namun Jade tak memedulikannya. "Hanya itukah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Prontera!? Toh pada akhirnya kota itu hancur juga!" kata Jade. Jade tetap tidak mengacuhkan Cherlia yang berusaha menenangkannya. "Jade!!" teriak Sharlean yang kesal melihatnya. Ia segera berjalan ke arahnya dan menamparnya. "Apa kau nggak bisa tenang sedikit!? Kita semua nggak mau kehilangan Ardelle, tapi tak ada pilihan lain!!" kata Sharlean. Jade terdiam menatap Sharlean, kemudian menatap Cherlia. "Sorry...," katanya. "Akhirnya dia tenang juga...," kata Cherlia. Jarred menggenggam tangan Carish yang masih termenung menatap Prontera yang hancur oleh ledakan. "Kita harus pergi," kata Jarred. "Ke mana?" tanya Cyriel yang sudah ingin mengeluarkan suara tapi tidak mendapat kesempatan karena keributan tadi. "Ke tempat untuk menerima perubahan...," kata Jarred. "Perubahan?" tanya Sharlean. "Second Class Job...," kata Jarred. Jade menatapnya terkejut.

"Jade dan Cherlia, kalian hanya perlu menuju ke bagian belakang Prontera. Di sana, istana Prontera belum hancur total. Di sana akan ada kepala Crusader dan pendeta yang akan membantu kalian berdua menjadi Crusader dan Priest. Untuk yang lainnya, aku akan menemani kalian menuju tempat perubahan masing-masing. Pertama-tama, kita akan ke Geffen untuk membantu Sharlean yang akan menjadi Wizard," kata Jarred. "Apa kami sudah layak?" tanya Sharlean. "Kurasa begitu. Selamatnya kalian dari kehancuran di Prontera membuktikan bahwa kalianlah yang akan mengubah sejarah Rune Midgard," kata Jarred. "Tapi semua bisa saja selamat dari ledakan itu," kata Jade. Jarred menggeleng. "Ardelle melakukan ini demi kalian semua...para prajurit dari Rune Midgard," kata Jarred. "Yah, whatever. Jadi sekarang kita harus berpisah?" kata Jade. Jarred mengangguk. "Setelah semua berhasil, pergilah ke Niflheim atau yang sering disebut dengan kota orang mati. Kita akan bertemu kembali di sana," kata Jarred.

***

Jade berjalan bersama Cherlia menuju reruntuhan kota Prontera. Namun kali ini mereka tidak memasuki kota. Mereka berjalan mengitari kota untuk mencapai bagian belakang dari istana Prontera. Sesampainya di sana, mereka bertemu dengan seorang Crusader dan seorang Priest. "Jarred sudah memberitahu kami tentang kalian. Jade sang Swordman, ikuti aku menuju ruang pelatihan istana. Sementara kau, Cherlia sang Acolyte. Ikuti Priest di hadapanmu menuju gereja dan ia akan memberitahumu apa yang harus kau lakukan selanjutnya.

Ruang pelatihan tampak begitu luas, tapi suram. Jade segera melangkah menuju tengah ruangan. "Bersiaplah, Jade," kata sang Crusader. Jade yang mengetahui bahwa ia harus melalui tes fisik segera mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk menghadapi apapun lawannya. Pintu jeruji yang terdapat di sekitar ruangan itu terbuka dan beberapa prajurit berlarian keluar sambil menggenggam pedang mereka. Kemudian, pintu di belakang Jade terkunci, menandakan bahwa ujian telah dimulai. Sang Crusader berdiri di dalam salah satu jeruji yang sudah kembali tertutup, memegang sebuah pedang tipis berwarna keperakan. "Kau harus membuka jeruji tempat aku berlindung dengan menekan tuas di ujung ruangan. Tapi, kau harus bisa melakukannya tanpa melukai para penyerangmu. Kau hanya diizinkan untuk menahan serangan mereka," kata sang Crusader. "Tanpa menyerang satupun!?" kata Jade. "Ya. Satu serangan dan kau dianggap gagal," jawab sang Crusader.

Jade bersusah payah menghindari beberapa serangan yang diarahkan kepadanya. Jika situasi tak memungkinkannya untuk menghindar, ia segera menahan serangan mereka menggunakan pedangnya. Ia terus mengingat-ingat bahwa ia tak boleh melakukan serangan. "Kau harus tenang, Jade," kata sang Crusader. "Pusatkan pikiranmu," katanya. Jade merasakan beberapa pedang menggores tubuhnya. Tak mungkin aku dapat menahan semuanya sekaligus, pikir Jade. Ia berusaha menahan beberapa serangan yang berasal dari depan, namun teteap saja ia tak sanggup menahan semuanya. "Endure!!" teriaknya. Tubuhnya terasa lebih kuat. Ia memfokuskan kekuatannya pada otot-otot tubuhnya agar ia lebih mampu menahan serangan fisik. Ia berlari menerobos kerumunan prajurit berpedang dan berusaha untuk menahan setiap serangan yang diarahkan padanya. Bunyi pedang yang keras terus terdengar seiring dengan melajunya Jade ke arah tuas di ujung ruangan. Tepat sebelum ia menyentuh tuas, ia memukul pedang para prajurit di sekitarnya untuk membuat mereka melangkah mundur. Kemudian, dengn sekuat tenaga ia meraih tuas dan menariknya. Jeruji besi tempat sang Crusader berlinung pelahan-lahan terbuka. Namun, sebelum Jade dapat sampai ke sana, sebuah pedang berhasil menebas punggungnya dan membuatnya terjatuh. Ia kembali berdiri, namun ia sempat terhuyung-huyung selama beberapa saat.

Ia berlari dengan sisa tenaganya sambil menahan serangan para prajurit di sekitarnya dengan mengibas-ngibaskan pedangnya dan segera berhenti di hadapan sang Crusader. Tak disangka, Crusader itu menggunakan pedang yang dipegangnya untuk menyerang Jade. Jade segera menahan serangan itu dan membalas dengan sebuah tebasan yang cukup kuat ke arah baju besi sang Crusader, membuat sang Crusader mundur beberapa langkah dan tersenyum.

"Kau memang sehebat dugaanku," katanya. Ia menyerahkan pedang tipis berwarna keperakan itu pada Jade dan menyuruhnya mengikutinya. "Kau telah layak, Jade," katanya setelah mereka kembali ke lobby istana Prontera. "Sekarang, tutup matamu," katanya lagi. Jade segera menutup matanya. Ia merasakan kekuatan yang besar menyelimuti tubuhnya dan beberapa saat kemudian, ia membuka mata dan melihat sebuah baju besi yang cukup kuat melindungi tubuhnya. "Saatnya kau pergi, Jade sang Crusader. Semua orang mengharapkan kedatanganmu," kata sang Crusader di hadapan Jade. Jade tak mempercayai penglihatannya. Ia berhasil mencapai Class impiannya, Crusader. "Pergilah...temui sahabatmu di gereja. Aku yakin ia akan sangat senang melihatmu," katanya lagi. "Baik. Terima kasih atas bantuannya," kata Jade. "Tidak. Akulah yang harus berterima kasih padamu. Dengan berubahnya kau menjadi seorang Crusader, hal itu menandakan bahwa perkataan Ardelle memang benar. Mungkin kalianlah yang akan mengubah dunia dan mengukir sejarah baru. Mungkin kalianlah ang mampu menyelamatkan dunia dari Ragnarok," kata sang Crusader. "Ragnarok tak bisa dihindari," kata Jade sambil menyarungkan pedang barunya. "Ya, tapi Ragnarok bisa dimenangkan," jawab sang Crusader. Jade tersenyum dan membungkukkan badannya. Setelah itu, ia keluar dari istana dan berjalan menuju gereja yang terletak tidak jauh dari istana. Baju Crusader-nya terasa lebih berat, tapi ia yakin bahwa ia akan segera terbiasa.

"Cherlia, aku datang," bisiknya pada diri sendiri.

1 komentar:

  1. templatenya terlalu kecil. ubah dari tata letak, lalu pilih "ubah template baru".

    BalasHapus