Rabu, Februari 11, 2009

RO Fanfic 18

Shera tersenyum licik saat Jarred berlari ke arahnya. Ia melompat menghindari serangan Jarred dengan mudah dan menendang bahu kiri Jarred. Namun, Jarred tak bergeming. Ia terus melakukan tusukan-tusukan maut yang diarahkan tepat ke tubuh Shera. Shera, yang menyadari bahwa akan berbahaya bila ia terus berada dalam jangkauan Jarred, segera melompat mundur dan melemparkan tiga bilah pisau ke arah Jarred. Jarred berhasil menghindari ketiga pisau itu dengan mudah dan mendekati Shera dalam beberapa detik saja. Katar-nya tergenggam erat saat ia menatap Shera.

"Envenom!" teriaknya. Katar-nya diselimuti racun berwarna kebiruan dan ia segera menghunjamkannya ke tubuh Shera. "Tak semudah itu, Jarred," kata Shera. Ia berhasil menahan serangan itu tepat sesaat sebelum Katar itu menyentuh perutnya. Sesaat kemudian, Shera telah menusukkan sebilah pisau ke tubuh Jarred. Jarred yang terluka segera melangkah mundur perlahan. "Jangan meremehkan Stalker, Jarred sang Assassin," kata Shera sambil tersenyum. Jarred ingin menusuknya saat itu juga, namun Shera telah memukul wajahnya dan membuatnya terjatuh.

"Heal!" teriak Cherlia dari kejauhan. "Carish, gunakan Heaven's Drive di sekitarmu!" teriak Cherlia.

Carish mengangguk dan memukulkan tongkatnya ke tanah, mengakibatkan beberapa buah batu berujung tajam muncul dari tanah di sekitarnya dan mengenai Shera. Shera terpukul mundur, yang berarti juga kesempatan bagi Jarred untuk menyerang. Jarred telah belajar untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menghabisi lawan. Oleh karena itu, ia segera mendekati Shera dengan memanfaatkan kecepatannya. Carish melihat Jarred melewatinya dalam sekejap dan mengarahkan Katar-nya pada Shera. Ia segera melancarkan beberapa tusukan langsung dan memanfaatkan kekuatan Resonance milik Cherlia untuk menghasilkan energi di sekitar senjatanya. Kemudian, ia segera menebas Shera menggunakan energi di sekitar Katar-nya.

Shera tersenyum pahit. Ia tertawa dan mengarahkan belati yang ia genggam pada wajah Jarred. "Kau begitu bodoh, Jarred. Kau pikir kau dapat menghentikanku semudah itu!?" katanya. Jarred tak memedulikannya dan mengarahkan Katar-nya sekali lagi. "Sonic Blow!" teriaknya. Shera tersenyum dan segera menghindar. "Kau tahu, seorang Stalker dapat meniru teknik lawan. Plagiarism!" katanya. Bayangan sepasang Katar muncul di tangannya dan ia segera menggunakan teknik Sonic Blow yang sama kepada Jarred. Kemudian, ia segera melompat dan menghilang. Jarred yakin bahwa ia masih berada di sekitarnya. Seketika itu juga, Shera muncul di belakang Jarred dan menusukkan belatinya ke punggung Jarred. Jade dapat melihat darah menetes dari luka Jarred.

"Inilah yang disebut dengan Backstab, memanfaatkan kelengahan lawan untuk menyerang," katanya. Jade yang tak tahan lagi segera mengangkat perisai besarnya. "Shield Boomerang!" teriaknya keras. Perisai itu dilemparnya ke arah Shera. Perisai itu berputar dan mengenai tubuh Shera dan membuatnya terjatuh selama beberapa saat. Jade segera berlari ke arah Shera. "Cherlia, Sharlean, bantu aku!" teriaknya. Sharlean segera melepaskan bola-bola api ke arah Shera dengan tujuan untuk membingungkannya. Cherlia, yang menyadari adanya kesempatan untuk menang, segera menggunakan sihirnya untuk meningkatkan kecepatan berlari Jade. "Sekarang! Gunakan Resonance!!" teriak Jade. Cherlia mengangguk dan memutuskan untuk mencobanya sekali lagi. Ia mengarahkan tangannya pada Jade yang sedang berlari. Saat itu juga, Jade merasakan aura yang sama seperti sebelumnya menyelimuti tubuh dan pedangnya. "Rasakan ini!" katanya sambil mengayunkan pedangnya hingga menyentuh tanah. Pedangnya menghasilkan energi api di sekitarnya dan melepaskannya tepat setelah pedang itu mengenai tanah. Api meluncur mendekati Shera dan mengalihkan perhatiannya selama beberapa saat. "Jarred!" teriak Jade. Ia melihat bayangan Jarred di dalam asap ledakan itu. Ia sedang berjalan mendekati Shera!

"Sonic Blow!" teriakan Jarred terdengar di dalam asap yang cukup membutakan pandangan. Jade segera menciptakan api ledakan sekali lagi dengan harapan dapat mengenai Shera bersamaan dengan Sonic Blow milik Jarred.

Terdengar ledakan besar di sekitar Shera yang diakibatkan oleh tiga serangan sekaligus. Sonic Blow, api dari pedang Jade, dan sihir Sharlean segera mengenainya pada waktu hampir bersamaan. Angin ledakan terasa begitu besar dan menyulitkan untuk melihat apa yang terjadi pada Shera. Beberapa ekor monster yang bersembunyi di tempat itu tampak sedang melarikan diri. "Sial! Kalau terus begini, kita juga akan terkena ledakan!" kata Sharlean. Jade segera berdiri tegak dan memukul tanah menggunakan perisainya. "Semuanya! Sacrifice!" teriak Jade. Aura perlindungan mengelilingi teman-temannya. Saat ledakan itu membesar, mereka tak merasakan apapun. Saat itu juga, Jade merasakan semua rasa sakit akibat ledakan besar itu. Ia pun terjatuh setelah beberapa saat terkena ledakan.

"Jade!!" teriak Cherlia, berusaha menggunakan sihir Heal. Namun ia sudah terlalu lelah untuk menggunakan sihir penyembuh pada Jade. "Kita harus membawanya masuk ke rumah!" teriak Jarred dari kejauhan. Hansen dan Darlen yang sudah selesai bertempur ikut membantu membawa Jade masuk karena armor Jade terasa begitu berat untuk dibawa oleh beberapa orang saja.

"Apa ia tak apa-apa?" tanya Cherlia.

"Entahlah. Ia menggunakan sihir perpindahan rasa sakit pada banyak orang sekaligus, itu sama saja menerima semua rasa sakit yang seharusnya diterima semua orang," kata Jarred. Wajah Jade tampak berkeringat. Mungkin karena menahan rasa sakit, pikir Cherlia dengan wajah khawatir. "Mungkin...hanya ada satu cara mengobati luka separah ini," kata Jarred setelah ia selesai memeriksa luka di sekujur tubuh Jade. "Apa itu?" tanya Cherlia. Jarred menatapnya dengan pandangan iba.

"Yggdrasil Flower...," gumamnya.

"Yggdrasil...Flower?" kata Cherlia. "Ya, bunga yang tumbuh di batang pohon dunia, Yggdrasil. Bunga itu mampu menyembuhkan luka yang sangat parah hanya dengan memakannya secara utuh," jelas Jarred. "Lalu? Di mana kita dapat menemukan Yggdrasil Flower?" tanya Cherlia. "Hanya ada satu cara untuk menemukannya...namun itu akan sangat berbahaya," kata Jarred. "Katakan saja!" kata Cherlia panik.

"Kita harus pergi...ke Juno, kota angkasa yang terlupakan. Di sanalah tempat tersimpannya Buku Ymir yang menghubungkan dunia kita, Rune Midgard, dengan Asgard, tempat tinggal para dewa di istana Valhalla. Kalian harus berhati-hati. Saat kita berada di sana, kita tidak boleh menarik banyak perhatian karena itu akan membuat Odin sadar bahwa kita berada sangat dekat dengannya, tepat di kota yang menghubungkan kedua dunia," kata Jarred. "Bagaimana dengan Shera?" tanya Cherlia yang menatap ke hutan gelap tempat Shera melarikan diri setelah ledakan besar terjadi. "Ia terluka parah, tapi bukan berarti ia sudah menyerah," kata Cherlia. Jarred mengangguk setuju. "Mungkin ia akan menjadi pengganggu dalam perjalanan kita. Carish...," panggilnya. Carish menatapnya. "Apa kau ikut ke Juno?" tanya Jarred. "Ya, tentu saja," kata Carish sambil mengangguk. "Baiklah, tapi kau harus berjanji...jika terjadi sesuatu di sana, biarkan aku yang menyelesaikannya, jangan sampai kau tertangkap lagi seperti tadi," kata Jarred, tersenyum. "Oke," kata jawab Carish.

"Baiklah, sekarang kita harus keluar dari Niflheim dan segera menuju Juno. Kalian belum cukup kuat untuk bertempur di Juno, jadi kita harus menghindari jalan yang penuh bahaya," kata Jarred. "Jadi...?" kata Cyriel sambil merapikan barang-barang bawaannya. "Kita gunakan Warp untuk menuju ke sana," kata Jarred. Ia memberikan sebuah bulu berwarna kebiruan pada masing-masing orang. "Lemparkan bulu itu ke atas kalian, maka kalian dapat melakukan teleportasi ke tempat yang kalian inginkan. Saat kalian melemparkannya, pikirkan tentang Juno," kata Jarred.

Cherlia membantu Jade berdiri melemparkan dua bulu sekaligus ke atas kepalanya dan ke atas Jade. "Kita bertemu lagi...di Juno!" kata Jarred setelah ia mulai menghilang bersama dengan Carish.

Minggu, Februari 08, 2009

RO Fanfic 17

Terdengar suara langkah kaki dari luar rumah tempat Jade dan yang lainnya beristirahat. Langkah kaki itu semakin dekat dan semakin cepat. Mau tidak mau, Jade harus segera mengambil pedangnya untuk berjaga-jaga. Niflheim bukanlah tempat yang tepat untuk bersantai. Kematian ada di mana-mana. Langkah kaki yang didengar oleh Jade bukanlah milik satu orang saja. Semakin ia berusaha mendengarkan, langkah yang terdengar semakin banyak dan semakin keras. Jade mengintip keluar melalui jendela tua di dekatnya. Keadaan remang-remang di dalam ruangan itu memudahkannya untuk melihat keluar. Karenanya, Jade dapat melihat dengan jelas keluar jendela, namun apapun yang berada di luar takkan bisa melihatnya dengan mudah. Ia telah mengalaminya sebelum ia bertemu dengan makhluk Gemini-S58 yang baru saja ia lempar keluar rumah.

"Jarred," panggil Jade singkat.

Jarred mengangguk dan menggenggam kedua Katar miliknya. Sharlean, yang juga menyadari akan adanya bahaya yang datang, berdiri dan menatap Jade. Carish sudah tertidur di sebelah Cyriel. "Apa kita bisa menghadapi apapun itu yang berada di luar sana?" kata Sharlean. "Mungkin," jawab Jarred. Sharlean mengintip melalui jendela lain di bagian belakang rumah. Ia melihat seorang wanita Stalker yang diikuti oleh beberapa ekor makhluk besar yang memegang kapak dan senajat lainnya.

"Shera...dan para Orc," katanya singkat.

"Shera sang Stalker?" tanya Jade tercengang. Sharlean mengangguk. "Rupanya ia belum menyerah," kata Jarred. Jade ingin bertanya sesuatu pada Jarred, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia mengangkat perisai besarnya dan membuka pintu depan rumah. Di luar, tampak Shera sang Stalker yang tersenyum licik saat ia melihat Jade dan Jarred. Tatapan matanya penuh rasa benci saat ia menatap Jarred.

"Masih hidup, Jarred?" tanya Shera. Jarred tak menjawab.

Seperti dugaan Jade, ada sesuatu antara Shera dengan Jarred, sesuatu yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. "Seperti biasa, Shera Mithel," kata Jarred dengan suara rendah, namun Jade dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya pada sang Stalker. Shera mengeluarkan dua bilah belati pendek. "Kali ini, aku takkan membiarkanmu pergi hidup-hidup," katanya. "Akan kita lihat...siapakah yang tidak akan keluar hidup-hidup," kata Jarred.

Jarred meluncur maju dan melakukan tusukan berkali-kali menggunakan Katar-nya. Namun, Shera segera menghindarinya dan memberi aba-aba pada pasukan Orc yang menunggu di belakangnya. "Tak ada kata curang ataupun adil di dalam suatu pertempuran, Jarred, itu yang biasa kau katakan," kata Shera. "Yang ada hanyalah...," lanjut Shera, "...kehidupan dan kematian." Jade segera menebas salah satu Orc yang mendekatinya dan menggunakan Grand Cross untuk melukai beberapa ekor Orc lainnya. Sementara itu, Sharlean yang sedang berdiri di belakangnya melepaskan beberapa bola energi berwarna kemerahan untuk menyerang para Orc di sekitar Jade. Terdengar suara ledakan beberapa kali saat bola-bola energi itu mengenai sasaran. Sharlean berlari ke arah Jade dan menggunakan sihir Thunder Storm untuk menciptakan area petir untuk menyerang musuh yang berkumpul di sekitar Jade. "Majulah!" kata Sharlean. Ia terus berusaha menahan musuh-musuh yang mendekat dengan menggunakan bola-bola energi miliknya dan menggunakan beberapa sihir lainnya untuk meledakkan musuh di sekitarnya.

Cherlia terbangun. Ia mendengar suara ledakan dan tebasan di luar rumah. "Carish...," bisiknya, membangunkan Carish yang tengah tertidur. Cyriel yang terkejut oleh suara ledakan yang cukup keras juga terbangun. "Apa yang terjadi?" tanya Cherlia. "Entahlah, sepertinya mereka sedang bertempur," kata Carish sambil berusaha berdiri. Ia melangkah menuju pintu depan dan melihat Jade, Sharlean, dan Jarred sedang menahan pasukan Shera Mithel dengan seluruh kemampuan mereka.

"Jade!" panggil Cherlia. Ia segera menggunakan sihir Heal saat melihat tubuh Jade yang dipenuhi luka akibat pukulan para Orc. "Cherlia! Masuk ke dalam rumah! Kau masih belum kuat untuk bertempur sekarang!" teriak Jade sambil mengayunkan pedangnya dan menebas leher salah satu Orc. Darah segar memercik ke tanah saat Orc itu terjatuh perlahan. "Sial! Jumlah mereka terlalu banyak!" kata Jade pada Jarred. Sharlean masih menggunakan beberapa sihir miliknya untuk meledakkan dan memukul monster-monster di sekelilingnya.

Udara terasa semakin dingin seiring dengan memanasnya pertempuran. Shera Mithel tampak tersenyum penuh kemenangan di kejauhan. Jade merasakan seekor Orc berhasil menebas punggungnya dengan menggunakan kapak yang cukup besar. Ia dapat merasakan rasa sakit berkumpul di punggungnya. "Heal!" teriak Cherlia. Luka Jade menutup sedikit, namun ia harus segera melanjutkan pertempuran. Ia mengibaskan pedangnya berkali-kali dan menyebabkan beberapa Orc di sekitarnya terjatuh. "Reflect Shield!" katanya. Aura pelindung muncul di sekitar tubuh Jade. Aura itu tak dapat menahan semua serangan yang diarahkan padanya, namun cukup membantu untuk melawan musuh yang menyerang langssung sekaligus.

Sementara itu, Shera melangkah menuju Carish yang sedang berdiri di dekat Cherlia. "Lama tak bertemu, Carish," katanya. Carish berusaha memikirkan sesuatu untuk melawannya, namun sebelum ia berhasil mengeluarkan sihir apapun, Shera menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya menjauh dari Cherlia.

"Jarred!" panggil Shera. Jarred segera menghentikan pertempuran dan menatap ke arah Shera. Ia melihat Carish berdiri di sebelah Shera. "Carish!" teriaknya. Ia berusaha mendekat untuk merebut Carish, namun Shera melemparkan dua buah pisau beracun ke arahnya. Jarred berhasil menghindar, tapi Shera sudah mengarahkan sebuah pisau lainnya ke leher Carish. "Kau mendekat, dia mati," katanya. "Kau...," kata Jarred penuh kemarahan. Jade segera membunuh seekor Orc yang berusaha menyerang Jarred dari belakang dan segera berdiri di sebelah Jarred. "Jangan lengah!" kata Jade sambil menebas Orc lainnya menggunakan Holy Cross.

Cherlia berlari mendekati Jade dan Jarred bersama dengan Sharlean dan Cyriel. Sementara itu, Hansen dan Darlen sedang berusaha membuka jalan menggunakan serangan masing-masing. Hansen yang sudah cukup terlatih dalam menggunakan pukulan-pukulan yang mematikan berhasil menjatuhkan beberapa ekor Orc bertubuh besar dalam beberapa saat. "Cherlia! Jangan mendekat!" kata Jade. Ia melihat seekor Orc yang akan memukul Cherlia. Oleh karena itu, Jade segera menggunakan Sacrifice pada Cherlia untuk memindahkan rasa sakit yang ia terima pada dirinya sendiri. "Heal!" teriak Cherlia sambil menggunakan sihir penyembuh. "Jade, jangan bertindak bodoh!" kata Cherlia. Jade segera mengangkat pedangnya dan mengumpulkan kekuatan suci di bagian ujung pedangnya. "Grand Cross!" katanya sambil menusukkan pedangnya ke tanah untuk menghasilkan ledakan kekuatan suci di sekelilingnya. Cherlia berdiri di dekat Jade. "Aku akan membantumu," kata Cherlia. Para Orc semakin mendekat. Mereka tampak marah karena Jade dan yang lain telah membunuh banyak anggota mereka.

Saat itu, Jade merasakan ada kekuatan lain menyelimuti mereka. Sharlean juga dapat merasakannya dengan jelas. Kekuatan yang memberikan mereka kemampuan lebih. Kemampuan untuk bertempur. Kemampuan untuk melindungi. Cherlia menatap Jade dan tersenyum. "Inikah...Resonance?" tanya Jade pada dirinya sendiri. Tubuhnya terasa ringan. Ia mendapat kecepatan lebih daripada saat ia diberikan sihir Increase Agility oleh Cherlia. Selain itu, pedangnya terasa lebih kuat dan lebih lincah, seolah-olah ada energi yang tak tampak mengelilingi pedangnya. Ia segera maju untuk menebas para Orc di hadapannya. Setiap tebasan yang ia lakukan diikuti oleh sejenis hembusan energi dari pedang menuju tangannya. Para Orc itu terjatuh hanya dalam satu tebasan. "Sharlean! Habisi mereka dengan Thunder Storm!!" teriak Jade. Sharlean mengerti dan mengeluarkan Thunder Storm. Anehnya, sihir itu keluar dalam jumlah besar dan ukuran dua kali lipat lebih besar. Jade terus menebas para Orc menggunakan kekuatan sihir di pedangnya. Ia dapat menghasilkan ledakan besar hanya dengan melakukan beberapa tebasan sekaligus.

"Sekarang...GRAND CROSS!!" teriaknya keras.

"Lord of Vermillion!" teriak Sharlean keras.

"Sonic Blow!" teriak Jarred, mengikuti dua orang temannya.

Grand Cross dan Lord of Vermillion terjadi lebih kuat daripada biasanya. Serangan gabungan keduanya terasa mematikan dan daya penghancurnya meningkat drastis. Sementara itu, efek Sonic Blow berbeda dari biasanya. Serangan itu mampu menghancurkan beberapa ekor musuh sekaligus di sekitar Jarred. Serangan itu juga semakin kuat dan mematikan. "Saatnya mengalahkan Shera!" teriak Jade.

"Tunggu!" kata Jarred sambil menahan Jade, "Shera Mithel adalah mangsaku."

RO Fanfic 16

Di hadapan Jade berdiri seseorang -- atau sesuatu -- yang tampak seperti manusia. Namun, manusia ini memiliki dua wujud. Terkadang ia berwujud seperti seorang pria, terkadang ia berubah menjadi seorang wanita. Makhluk itu menatap Jade dan Cherlia dengan tatapan yang aneh. "Gemini-S58," kata Cherlia sambil menatap makhluk itu. "Apa?" tanya Jade. "Namanya Gemini-S58. Makhluk ini merupakan perpaduan antara pria dan wanita. Aku pernah membaca tentangnya beberapa kali di perpustakaan sekolah," kata Cherlia berusaha menjelaskan. Jade terus menggenggam pedangnya di tangan kanan dan perisainya di tangan kiri. "I don't think this is good," kata Jade. "Ya, makhluk ini menyerang pengembara yang tidak waspada. Ia mungkin saja dapat berubah wujud di tengah-tengah pertempuran," kata Cherlia. "Hmm...pria dan wanita...kok mirip Hermafrodit ya? You know, makhluk hidup yang dapat memiliki dua jenis kelamin," kata Jade. Cherlia mencubit tangan kiri Jade. "Bukan waktunya bercanda!" katanya serius. "Iya, maaf," kata Jade sambil meringis karena cubitan Cherlia yang lumayan menyakitkan.

Makhluk itu terus terdiam, namun matanya tampak berbahaya. Ia terus-menerus beubah dari pria menjadi wanita, kemudian menjadi kembali menjadi pria. Jade berusaha untuk tidak melakukan gerakan secara tiba-tiba, tapi sebelum ia sempat berpikir apa yang harus dilakukan, makhluk yang bernama Gemini-S58 itu melangkah maju dan siap menerjang Cherlia. Untungnya, Jade sempat menggunakan skill perlindungan Sacrifice untuk menciptakan aura pelindung di sekitar Cherlia. Akibatnya, serangan yang dilakukan monster itu berpindah dari Cherlia ke Jade. "Sacrifice, sihir perpindahan rasa sakit," kata Jade. Ia mengayunkan pedangnya beberapa kali, tapi berhasil dihindari oleh monster Gemini-S58 itu. Sekali lagi, Jade harus menggunakan Sacrifice untuk melindungi Cherlia dari serangan mendadak yang dilakukan makhluk itu. "Susah juga jadi Crusader yah...," kata Jade.

Cherlia mengarahkan kedua tangannya pada makhluk itu dan mengeluarkan cahaya yang disertai dengan seorang malaikat di atas makhluk itu. Malaikat itu menjatuhkan beberapa buah pedang yang berakibat menurunnya pertahanan makhluk itu. "Lex Aeterna," kata Cherlia perlahan. "Jade, sekarang! Gunakan serangan terkuatmu!" kata Cherlia terburu-buru. Jade mengangguk dan berlari mendekati makhluk yang masih tampak bingung itu. "Holy Cross!" kata Jade sambil mengayunkan pedangnya membentuk sebuah salib suci di udara di hadapannya. Dua buah tebasan itu mengenai tubuh sang monster dan mengakibatkan efek dua kali lipat dari biasanya. Makhluk itu masih hidup, ia berusaha menyerang Jade sambil terus berubah wujud. Jade yang telah waspada akan serangan itu segera melakukan gerakan menghindar dan membalas dengan pukulan keras menggunakan bagian belakang pedangnya yang diarahkan ke perut makhluk itu. Kemudian, ia melakukan Holy Cross sekali lagi ke arah tubuh makhluk itu untuk membuatnya terjatuh ke tanah. Jade segera berinisiatif untuk mengarahkan pedangnya ke leher makhluk itu.

"Jade!" teriak Cherlia.

"Apa?" tanya Jade.

Cherlia menarik tangan kanannya. "Apa tak ada cara lain selain membunuhnya?" tanyanya. Jade menatapnya dalam-dalam. "C, makhluk ini bukan manusia. Ia hanya berwujud seperti manusia. Jadi tak ada salahnya membunuhnya sebelum ia yang membunuh kita terlebih dulu, kan?" kata Jade. "Tapi...," kata Cherlia. Ia teringat bahwa Priest memiliki tugas untuk menolong sesama manusia, tapi perkataan Jade ada benarnya juga. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa makhluk itu bukan manusia, melainkan hanya monster yang mengambil wujud manusia. Saat ia sedang berpikir, makhluk itu melompat berdiri dan berlari ke arahnya. "Cherlia!" teriak Jade. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat pedangnya dan melemparkannya ke arah makhluk itu. Pedang itu berhasil menembus punggung sang monster dan menjatuhkannya. "Maaf, tak ada pilihan lain," kata Jade. Makhluk itu terkapar di tanah dan berhenti bergerak. "Ya, kurasa kau benar," kata Cherlia.

Mereka menggeledah isi rumah dan menemukan beberaa buah batu berwarna kebiruan. Batu itu tampak seperti batu untuk perhiasan yang masih kasar. "Blue Gemstone?" tanya Jade. Cherlia mengangguk. "Untuk apa makhluk itu mengumpulkan Blue Gemstone sebanyak ini?" katanya lagi. "Entahlah, mungkin ia tertarik pada sesuatu yang berkilau," jawab Cherlia. Tiba-tiba Cherlia tampak kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Sebelum ia menyentuh lantai, Jade segera menangkapnya dan membawanya ke sofa yang ada di dekat situ. "Cherlia!" panggilnya setelah ia meletakannya di atas sofa. "Apa yang terjadi?" tanyanya pada diri sendiri. Jade tenggenggam tangan Cherlia. Dingin. "Cherlia, buka matamu!" kata Jade panik. Napas Cherlia terdengar berat dan keringat membanjiri wajahnya. Jade terus memanggil namanya, namun ia tak menjawab.

***

"Apa ia sakit?" tanya seseorang di belakangnya.

Jade melihat ke belakang dan mendapati Sharlean, Carish, Cyriel, dan Jarred di sana. Ia juga melihat beberapa orang yang belum ia kenal: Hansen dan Darlen. Mereka segera memperkenalkan diri secara singkat dan kembali ke topik pembicaraan. "Kami melihatmu di dekat sini dan memutuskan untuk mengikutimu. Tak kusangka, kemampuanmu sudah jauh meningkat," kata Jarred. Jade berusaha tersenyum, tapi tidak bisa. Ia terus menatap Cherlia yang tampak kesakitan.

"Jarred, apa yang terjadi pada Cherlia?" tanya Carish di sebelahnya. Jarred mengangkat bahu. "Ini hanya perkiraanku saja...," kata Jarred. Jade menatapnya penuh rasa ingin tahu. "Cherlia mungkin memiliki Resonance," kata Jarred. "Resonance? Apa itu?" tanya Jade.

"Resonance adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan alam sekitar. Namun, seseorang yang memiliki Resonance akan mengalami kesakitan yang luar biasa bila ia tidak bisa menahan atau mengendalikannya. Belum banyak orang yang memiliki Resonance, tapi ada seseorang yang kukenal...ia juga memilikinya. Itu sebabnya aku mengatakan pada kalian bahwa kalianlah yang dapat menghadapi Odin. Ingat saat pertama kali kukatakan ada yang berbeda pada grup kalian?" tanya Jarred. "Memangnya kau bilang begitu ya?" tanya Sharlean. "Mungkin...tapi mungkin juga belum. Aku tak begitu ingat. Intinya, Resonance memiliki kemampuan untuk memanfaatkan kekuatan alam sekitar untuk mengambil suatu bentuk. Anggaplah sebagai sihir yang tidak biasa, tapi Resonance juga dapat menyebabkan penderitaan. Untuk menahannya, Cherlia harus belajar untuk mengendalikan Resonance miliknya," kata Jarred.

"Apa yang terjadi dengan temanmu itu?" tanya Jade tampak khawatir.

"Ia...meninggal saat bertempur menggunakan Resonance. Ia belum benar-benar menguasainya, tapi ia tak memedulikan laranganku dan menggunakan Resonance untuk ikut bertempur. Akibatnya, ia kehilangan kendali atas Resonance dan kekuatan itu berbalik ke arahnya dan membunuhnya," kata Jarred.

Jade menatap Cherlia. Kenapa hal ini terjadi begitu cepat? tanya Jade pada diri sendiri. Cherlia baru saja dapat menikmati hidup sebagai seorang Priest. "Apa ia akan mengalami hal yang sama?" tanya Jade. "Tergantung...tidak, jika ia dapat mengendalikannya. Ya, jika ia tidak dapat mengendalikannya," kata Jarred. Cherlia membuka matanya perlahan. Ia masih tampak kesakitan. "Apa aku akan mati seperti temanmu itu, Jarred?" tanyanya. "Entahlah. Kuharap tidak," jawab Jarred. Jade membantu Cherlia berdiri. "Kau harus beristirahat," kata Jade. "Ya, tapi biarkan aku menyembuhkan luka-lukamu," kata Cherlia sambil menggunakan sihir Heal miliknya ke arah Jade.

Beberapa saat kemudian, Cherlia sudah terlelap. Jade hanya melihat Sharlean yang masih belum tidur. "Jade, kau khawatir?" tanya Sharlean. Jade mengangguk. Ia tak ingin bicara banyak tentang Resonance yang dimiliki Cherlia. Ia berusaha menutup matanya dan tertidur. Tidurnya tidak nyenyak. Ia terus terbayang-bayang tentang Cherlia dan kekuatan miliknya.

"Resonance...," bisik seseorang di pikiran Jade.