Rabu, Desember 17, 2008

RO Fanfic 12

Chapter 5: "Lord of Vermillion"

Sharlean berusaha menghindari serangan dari Arsean. Ia terus menggunakan sihir Meteor Storm miliknya, namun Arsean terus berhasil menghindarinya. "Coin Fling!" teriak Arsean sambil melemparkan sebuah koin yang telah diberi unsur sihir. Koin itu tepat mengenai perut Sharlean dan membuat kekuatan pertahanannya semakin rendah. Sharlean berusaha tidak memikirkannya dan terus mendekati Arsean sambil menggunakan sihir Thunder Storm dan Meteor Storm berkali-kali dengan harapan bahwa Arsean akan terkecoh oleh ledakan yang bertubi-tubi. Ia sudah cukup dekat. Ia dapat melihat Arsean di dalam asap sisa ledakan. Sharlean segera melakukan gerakan cepat dan mengarahkan tongkatnya pada Arsean. Tiba-tiba, Arsean berbalik ke arahnya dan menekan pelatuk pistolnya. "Disarm," katanya. Sebuah peluru kekuningan meluncur dari laras pistolnya dan mengenai tongkat yang sedang digenggam oleh Sharlean. Tekanan yang dihasilkan peluru itu sangat besar sehingga tongkat itu terlepas dari tangannya.

"Usahamu sia-sia," kata Arsean sambil tersenyum licik. Sharlean menatap sebuah luka di tangannya akibat tergores saat peluru itu mengenai tongkatnya. Carish menyentakkan tongkatnya ke tanah dan menciptakan bebatuan di tanah di bawah kaki Arsean. Arsean terkena pukulan dari tanah beberapa kali, membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan dan memberi kesempatan bagi Hansen untuk melesat dan memukul perut Arsean beberapa kali. Arsean tampak kesakitan dan marah. "Kalian benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah ya?" katanya sambil membidikkan salah satu pistolnya ke arah Hansen. "Piercing Shot!"

Terdengar suara desingan peluru yang menembus tubuh Hansen dan membuatnya terjatuh berlutut. Peluru itu berhasil mengenai bahu kirinya dan membuat lubang yang cukup besar. Darah terus menetes dari lukanya, tapi ia berusaha untuk berdiri. "Bodoh," kata Arsean sambil berjalan mendekati Carish dan Hansen. "Kalian akan merasakan penderitaan lebih banyak lagi...Desperado!" katanya. Ia memutar kedua pistolnya beberapa kali dan selama itu, ia terus menekan pelatuknya berkali-kali sehingga bberapa peluru meluncur ke daerah sekitarnya. Carish telah berusaha sekuat tenaga untuk menghindari tembakannya, namun Arsean terlalu cepat baginya. Peluru-peluru yang menyebar berhasil melukai Carish dan Hansen. Hansen berhasil menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh ke tanah. Ia terus menggumamkan sesuatu, disusul dengan munculnya beberapa spirit yang tampak seperti benda bulat yang mlayang di sekeliling tubuhnya. "Kita akan lihat...siapakah yang bodoh...Finger Offensive!!" teriaknya sambil berusaha menahan sakit di sekujur tubuhnya. Lima buah spirit segera meluncur tepat setelah ia mengarahkan jarinya pada Arsean. Kelima spirit itu meluncur lebih cepat dari peluru dan menghantam tubuh Arsean sebanyak lima kali berturut-turut. "Sharlean! Sekarang ambil tongkatmu!!" kata Hansen sambil memanggil lima spirit lainnya dan menggunakannya untuk menghantam Arsean sekali lagi. Sharlean yang sudah berhasil berdiri segera melompat ke arah tongkatnya dan mengambilnya. Setelah ia berhasil menyentuh tongkatnya, ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan menutup matanya. Ia yakin bahwa Hansen dan Carish akan mampu untuk menahan Arsean selama ia berkonsentrasi.

"Vermillion...warna merah yang menunjukkan kehancuran...," pikirnya. Ia teringat pada perkataan instrukturnya: "Lord of Vermillion bukan hanya sekedar sihir, melainkan juga pengetahuan..."

"Pengetahuan...pengetahuan akan sihir akan membawa entah kehancuran atau kedamaian," kata Sharlean pada dirinya sendiri. Ia merasakan pengetahuannya masih kurang untuk mengerti segala hal di sekitarnya. "Aku...akan mencari sendiri arti dari Vermillion," kata Sharlean. Ia merasa jantungnya berdegup semakin cepat dan kekuatannya bergejolak. Namun yang ia rasakan bukanlah kemarahan, tapi keberanian. "Merah...merah adlah keberanian dalam diri masing-masing Wizard," pikir Sharlean. Ia tidak begitu yakin, tapi ia akan mencari tahu sendiri. "Sekarang, tunjukkan kekuatanmu...," kata Sharlean sambil membuka matanya perlahan dan menatap ke arah Arsean. Hansen tahu bahwa sudah waktunya bagi dirinya dan Carish untuk menyingkir. Carish segera berlari ke belakang dan Hansen berlari ke sebelah Sharlean. Sharlean membuka mulutnya sambil mengangkat tongkat sihirnya. "Lord of Vermillion!!"

Dua buah petir besar menyambar ke sekitar Arsean dan dilanjutkan dengan ledakan yang terjadi beberapa kali. Carish hanya bisa menatap ledakan yang tampak seperti meteor yang menghantam permukaan tanah berkali-kali. Ledakan itu terus berlanjut dan disusul dengan sambaran petir lain yang membuat tubuh Arsean tidak dapat keluar dari area ledakan. Sharlean menatap ledakan itu. Ia merasakan ada energi yang mengelilingi area ledakan, energi yang membuat kekuatan sihir berkumpul dan menciptakan ledakan berkali-kali lebih besar dari yang pernah dilakukannya.

Carish berjalan mendekati Sharlean. "Sihir bukanlah segalanya, kan? Perasaanmulah yang menciptakan sihir ini. Perasaanmu juga yang menghasilkan energi itu. Banyak hal yang tak dapat dijelaskan...dan itu lebih daripada sihir," katanya. "Maksudmu?" tanya Sharlean. Carish mengangkat bahunya. "Aneh...," kata Sharlean.

Tubuh Arsean berlumuran darah dari luka-lukanya. Ia terjatuh perlahan dan memutuskan untuk berhenti bertempur. "Kalian memang lebih hebat dari dugaanku," katanya tersenyum lemah. Sharlean tidak berkata apa-apa. Ia berjalan mendekati Arsean dan mengarahkan tongkatnya pada wajah Arsean. "Kau ingin membunuhku?" kata Arsean. "Silakan, kami para Valkyrie takkan mati hanya karena serangan yang dilakukan manusia," lanjutnya. "Katakanlah pada Odin bahwa kami akan menunggunya untuk bertempur di dalam pertempuran yang tak terhindarkan," kata Sharlean setelah beberapa saat ia terdiam. "Ragnarok...," gumam Carish.
Sharlean melangkah pergi meninggalkan Arsean yang masih merintih kesakitan.

***

"Ke mana kalian akan pergi sekarang?" tanya Hansen sambil menatap Sharlean. "Niflheim. Kami berjanji untuk bertemu dengan yang lain di tempat itu," jawab Sharlean. "Niflheim, City of the Dead," kata Hansen. Sharlean mengangguk. "Boleh aku ikut?" tanya Hansen tiba-tiba, "Aku juga ada sedikit urusan dengan Odin, jadi kurasa aku tak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Odin sendiri. Dan kurasa kalian akan mampu untuk melakukannya." Sharlean menatap Carish. Carish mengangguk. "Baiklah. Kurasa kami akan membutuhkanmu suatu saat nanti...you're a pretty good fighter," kata Sharlean. "Thanks," balas Hansen.

Sementara itu, seseorang sedang mengamati mereka dari dalam bayangan gelap. "Mereka akan berangkat ke Niflheim, huh? Kurasa sudah waktunya berangkat. Ya kan...Shera Mithel sang Stalker?" tanya seorang pemuda berambut spiky berwarna kecoklatan. Shera Mithel yang berada di belakangnya mengangguk dan tersenyum sambil menggenggam dagger miliknya. "Kurasa aku akan mendapat kesempatan untuk balas dendam pada pria yang telah membunuh partnerku...Argus Wintold sang Assassin," kata Shera. "Ya, kematian Argus harus dibalas. Dan kurasa kau adalah orang yang tepat untuk melakukannya, terutama karena kita berhasil bertemu dengan kekasih orang yang membunuh Argus," kata pria berambut coklat itu. "Ya. Carish, kau akan menjadi umpan terbaik untuk memancing Jarred sang Assassin," kata Shera sambil tertawa. "Sebentar lagi...," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar